Rabu, 10 Maret 2010

Inspirator

Aalia Kika Syafi’i Mustain, Alurkria Multimedia

Mantan Pengamen Yang Sukses di Bidang Desain dan Multimedia


Sebelum mulai dikenal sebagai wirausaha muda bidang desain, dan multimedia. Aalia Kika Stafi’i Mustain sehari-hari berdesakan di atas kereta Jakarta-Bogor sembari menenteng gitar akustik untuk mengamen. Ketertarikannya di bidang desain membuat hasil jerih payahnya mengamen yang berhasil ia sisihkan, lebih banyak ia gunakan untuk membeli buku dan rental warnet. Kini dengan bendera Alurkria Multimedia yang ia dirikan, Kika bisa mempekerjakan banyak karyawan, dan bisa menyisihkan sebagian pendapatannya untuk kegiatan sosial.

Malam itu, saat ditemui PK di kantornya di daerah Kelapa Dua, Depok. Kika bersama rekan-rekannya tengah mempersiapkan keberangkatan ke Ciwidey, Bandung, untuk membawa bantuan bagi korban longsor. “ Pagi-pagi kita berangkat, biar sampai sana sudah agak terang,” ungkap lelaki berperawakan kurus dengan rambut gondrong dan penampilan sederhana ini.

Aalia Kika Syafi’i Mustain, lahir dan dibesarkan di Batang, Jawa Tengah. Orang tuanya berasal dari keluarga pegawai negeri dan pedagang batik. Kika dididik dengan aturan-aturan yang ketat di keluarga. “ Positifnya, saya punya pengetahuan agama yang lumayan, tapi banyaknya aturan yang mengekang membuat saya memberontak,” ungkap Kika. Masuk SMA, Kika seakan baru melihat dunia luar yang sebenarnya, hal itu sempat membuatnya terjerumus pada narkotika. “ Tapi akhirnya saya berhasil keluar,” ujarnya.

Lulus SMA, Kika ke Yogya dengan tujuan awal kuliah. “ Sudah daftar dan lulus tes di ISI, tapi nggak ikut ospek, dicariin senior lalu nggak pernah masuk,” kenangnya.

Untuk bertahan hidup di Yogya, Kika yang tinggal bersama teman sekampungnya akhirnya mulai ngamen. “ Mau pulang malu, terlanjur bilang mau kuliah dan bisanya saat itu cuma main gitar,” ungkap Kika. Keputusan Kika tidak terus kuliah juga didasari kesadaran akan kemampuan orang tuanya.

Tahun 2000, Kika yang sebelumnya punya keinginan mengembangkan bakat dan terjun ke Industri musik, pergi ke Jakarta. Tujuannya berkenalan dan bergaul dengan musisi-musisi senior yang mungkin bisa memberi jalan untuk masuk ke dunia hiburan. “Waktu itu belum tetap di Jakarta, masih bolak-balik yogya atau pulang kampung,” ungkapnya.

Awal 2001 Kika mulai tinggal di Depok, dan kegiatannya sehari-hari ngamen di dalam gerbong Kereta Api, Bogor-Jakarta. Saat itulah Kika mulai tertarik pada dunia disain. Uang hasil ngamen selalu ia sisihkan untuk membeli buku tentang desain dan rental warnet. “ Ada satu Warnet di Depok yang jadi langganan saya, karena di komputernya diinstalin Photoshop,”, ungkapnya.Setiap hari Kika sisihkan uang Rp 10 ribu dan sewa warnet dari malam hingga pagi. “ Waktu itu warnet di Depok ada paket yang bayarnya murah tapi mainnya tengah malam sampai pagi,” ujar Kika.

Pergaulannya dengan para musisi senior tidak berhasil membawanya ke dunia rekaman, namun ada sebuah kesempatan emas yang tidak ia lewatkan. Saat itu ia ditawari mendisain cover kaset, yang diproduksi PT Irama Tara “ Saya dapat uang Rp 300 ribu, habis buat beli buku,makan sama ke warnet untuk garap desainnya,” ungkapnya.

Sejak itu mulai muncul kepercayaan dirinya dan berani tawarkan diri untuk membuat brosur dan sebagainya, tapi ngamen masih tetap jalan karena order tidak tentu. Saat mulai banyak order, Kika pun mulai bisa menyisihkan uang untuk beli computer Tahun 2003, Kika mulai merasa harus membuat wadah untuk usahanya dan ia pun sudah tidak bisa lagi hanya bekerja sendiri. Akhirnya, tahun 2004 Alurkria mulai berdiri. “ Waktu itu buka di kampung saya di Batang, belum berani di Jakarta,” ungkap lelaki kelahiran 17 Juli 1977 ini. Karena di Batang belum ada tempat desain yang besar, Kika dapat dengan cepat menguasai pasar disana. Kika kerap dapat order buku, desain brosur dan sebagainya. Kemudian mulai merambah ke Reklame. “ Lumayanlah akhirnya berkembang dan bisa pegang karesidenan Pekalongan, dari Brebes sampai Batang,” kenang ayah Zaneta Putri Aalia Kika yang lulusan SMA Bhakti Praja, Batang ini.

Tahun 2005 Kika mulai merasa jatuh cinta yang kedua kalinya pada Internet. Kali ini Kika mulai tertarik pada blog, tertarik tidak hanya menggunakan untuk mengisi dengan kata-kata, tapi juga source goodnya, dan mulai mempelajarinya. Kika kemudian mencoba-coba mendesain Website.

Kika sempat merambah ke Semarang, namun ia kalah bersaing dengan pemain lama yang lebih kuat koleganya. Akhirnya tahun 2006 Kika kembali aktif di Jakarta. “ Jakarta pasarnya lebih banyak, walaupun pesaingnya juga lebih banyak, tapi rasanya lebih fair bersaing disini,” ungkap Kika

Awal keberuntungannya di bidang ini adalah saat ia mengikuti sebuah kompetisi logo sebuah perusahaan di sebuah situs asing, Kika memenangkan juara pertama, berhak atas hadiah 900 dolar dan dikontrak selama setahun untuk membuat disain website nya. Lepas kontrak Kika mulai sering membuat template-template untuk desain web, lalu menjualnya ke situs-situ luar negeri. “ Itu untuk dijual lagi dan lebih mahal, tapi saya tidak merasa rugi karena saya memang tidak tau bagaimana kalau harus menjual sendiri”, ungkap Kika.

Kini Alukria telah makin berkembang. Alurkria punya workshop di beberapa tempat, Cipayung, Pamulang, dan di Yogya. “ Disini untuk kantor saja, atau kalau ada kerjaan insidental yang harus cepat selesai,”ujar Kika.

Sejauh ini beberapa klien yang pernah menggunakan jasa Kika antara lain Djarum LA Lights, PT Ilham Malindo, JuventusIndonesia.com, Expovaganza, Domino, Telkomsel, proyek TI dari berbagai pemda (Bandung, Bali, Papua, Pamekasan, Kalimantan Timur), PLN dan masih banyak lagi.

Kika enggan menyebutkan apa yang sudah bisa didapat dari bisnisnya. Namun Kika yang juga aktif di kegiatan sosial. Sekarang sudah mendirikan Rumah Baca di Cianjur, Semarang, Malang, Papua, Bali dan Purworejo, setiap rumah baca menghabiskan dana minimum Rp 25 juta, dan harus terus disuplai buku untuk kelangsungannya.

Kika juga punya usaha-usaha binaan di kampungnya, dan saat ini ia Saat ini Kika juga tengah punya kegiatan untuk memberdayakan kembali masyarakat korban lumpur Lapindo juga tengah punya kegiatan untuk memberdayakan kembali masyarakat korban lumpur Lapindo “Kalau semakin banyak kegiatan social yang bisa kita lakukan artinya Alurkria makin besar karena kegiatan tersebut dibiayai dari profit usaha yang sebagian memang dialokasikan untuk itu”, ungkapnya.. Ali


Tidak ada komentar:

Posting Komentar