Rabu, 24 Februari 2010

Purgatory dan Teh Manis

Bulan lalu mungkin karena banyak pikiran, dan males makan, maag saya kambuh. Kali ini cukup parah, seminggu lebih tiap hari saya mual-mual. Akhirnya telp dokter Heni (gratisan) untuk minta resep. Dokter Heni menyarankan untuk makan lebih teratur, tidak merokok dan tidak mengawali hari dengan teh manis, sebelum lambung diisi makanan. Selain itu saya juga disuruh periksa lagnsung ke dokter, tidak hanya lewat telp.
Karena tak tahan dengan rasa mual tiap hari, anjurannya saya turuti. Ke Dokter, tidak merokok dan tidak minum teh manis sebelum mengisi lambung dengan makanan, padahal itu adalah kebiasaan saya setiap pagi.
Setelah membaik dan mulai normal beberapa hari lalu, saya sudah kembali merokok walau hanya kadang-kadang dan tidak terlalu banyak, dan saya kangen pengen minum teh pagi setelah hampir dua minggu tidak minum teh sama sekali. Akhirnya setelah terlebih dulu mengisi perut dengan makanan pagi itu saya kembali bisa menikmati teh manis.


Rasanya begitu nikmat.., dan saya merasa harus bersyukur bisa menikmati teh manis. Ingin rasanya berterimakasih pada penemu yang menemukan pertamakali kenikmatan daun ini jika dijadikan minuman. Rasa syukur saya merambah.. karena saya bisa kembali menikmati teh manis karena diberi nikmat sehat, diberi rejeki untuk bisa ke dokter saat sakit, dan masih mampu beli teh dan gula, lalu bersyukur diberi suasana pagi yang nyaman yang mendukung kenikmatan minum teh.., diberi teman-teman yang peduli.. dan masih banyak lagi
Saya kembali menyadari betapa banyak nikmat dari NYA yang selama ini mungkin tidak kita syukuri...

Pagi ini saya teringat sepotong lirik lagu dari Purgatory yang dikutipnya dari dari Ayat Suci Al Qur'an

Then which favours of God will you deny? 55:13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar